Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Panen hasil kebun,Wali Kota Sorong dan Ketua DPRD di Tengah Wabah COVID-19




Tanah Papua maupun Papua Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia, yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah. Baik kekayaan sumber daya alam hayati maupun non hayati, yaitu seperti ikan yang melimpah, hasil perkebunan, kayu bahkan hasil tambang dan minyak bumi.
Wali Kota Sorong berprinsip, berkebun adalah solusi bertahan hidup ditengah wabah COVID-19, foto : Yanti



Sejak zaman dahulu, orang Papua berprofesi sebagai nelayan dan petani. Dimana mereka pergi memancing ikan di laut dan di danau serta berkebun di hutan, kemudian hasilnya dijual ke pasar untuk menghidupi keluarga. Namun seiring dengan perubahan zaman, kebiasaan tersebut seolah-olah mulai hilang dan tidak diikuti oleh generasi millenial papua saat ini. Padahal, tanah atau lahan yang ada di Papua maupun Papua Barat masih banyak yang kosong dan dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam.

Akibatnya, pada saat terjadi krisis seperti saat ini yakni dengan adanya wabah COVID-19, dimana semua orang disuruh untuk tetap diam di rumah atau stay at home, banyak masyarakat yang mengeluh dan takut tidak bisa makan.

Tampak Wali Kota Sorong memotong pohon pisang dan mengambil buahnya di kebun, foto : Yanti




Apa yang dilakukan Lambert Jitmau dan Petronela Kambuaya ini, patut dicontoh oleh seluruh masyarakat. Bukan saja masyarakat asli Papua yang ada di wilayah Sorong Raya, tetapi juga seluruh warga masyarakat yang tinggal baik di Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Maybrat, Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Raja Ampat.

Meskipun keduanya merupakan sosok Pimpinan di Kota Sorong, dimana Lambert Jitmau merupakan Wali Kota Sorong dan Petronela Kambuaya merupakan Ketua DPRD Kota Sorong, namun keduanya tidak malu untuk tetap berkebun disela-sela aktifitas padatnya sebagai seorang kepala daerah.

Selain di konsumsi sendiri, hasil kebun juga kadang dijual di pasar, foto : Yanti




Putra-putri asli Maybrat ini, menyulap dan  memanfaatkan pekarangan rumah serta lahannya yang berada di Distrik Klamono Kabupaten Sorong, menjadi kebun dengan menanam berbagai macam tanaman. Seperti pisang, singkong atau kasbi dalam bahasa Papua, petatas, keladi sampai sayuran seperti kangkung, pepaya, tomat, cabai, sereh, jahe, sayur bayam, kacang panjang, jagung, rambutan, kunyit dan masih banyak lagi.

Hasil panen dikebunnya, tidak saja untuk di konsumsi oleh keluarga kecilnya yaitu anak-anak dan cucu. Melainkan juga dijual ke pasar. Saking melimpahnya hasil kebun, Lambert dan Petronela juga kadang membagikannya ke keluarga besarnya yang ada di Sorong dan di Maybrat.

Hasil panen di kebun orang nomor satu di Kota Sorong yang melimpah, foto : Yanti

"Ada pisang, sayur gedi, bunga dan buah pepaya, jantung pisang, hari ini kita panen. Kita hanya tinggal menikmati saja. Masih banyak, tapi karena hujan jadi kita tidak panen semua," ungkap Petronela Kambuaya yang merupakan Ketua DPRD Kota Sorong saat menunjukkan hasil panen di kebunnya kepada Balleo News.

Diceritakan Petronela, disaat dirinya dan suaminya lelah dengan aktifitas sehari-hari di kantor sebagai seorang kepala daerah, mereka berdua datang ke kebun untuk menghilangkan penat. Menurutnya, tujuan dirinya dan suami tetap berkebun, mengingat jabatan bukan segala-galanya, hanya sementara, ada batas waktu dan selesai.

Hasil panen di kebun orang nomor satu di Kota Sorong yang melimpah, foto : Yanti




"Wali Kota hanya batas waktu sepuluh tahun, kalau kami di DPRD tergantung dari masyarakat. Kalau mereka masih memilih kami ya bisa nak terus sampai ke pusat. Tapi kalau tidak juga, maka akan berakhir. Jadi dengan dasar itu kami berkebun, sebelum kami turun jabatan ya kami bisa menikmati hasil kebun. Kebetulan pas wabah corona ini, kami di rumah tidak punya persediaan beras dan sayur, jadi kami hanya andalkan kebun saja," cerita Ketua DPRD Kota Sorong.

Sementara itu, Lambert Jitmau yang merupakan Wali Kota Sorong, menambahkan kebanyakan pejabat yang ada di tanah Papua termasuk dirinya, sebelum menduduki jabatan saat ini pasti berasal dari kampung.

Wali Kota Sorong tampak memotong dan merubuhkan pohon pisang yang sudah tua, untuk mengambil buahnya, foto : Yanti

"Pejabat siapapun itu, pasti awalnya berasal dari kampung. Kita dari kecil bersama orangtua selalu berkebun. Tapi dengan adanya perubahan zaman, kita seakan melupakan tradisi orangtua kita untuk berkebun dan cara bercocok tanam. Ini seolah hilang dari ingatan kita, karena kita terlena dengan situasi sekarang," beber Lambert.

Kata Lambert, dirinya tidak bisa memaksa orang lain untuk berkebun. Tapi dirinya lebih mengajak keluarganya dan orang yang satu kampung dengan dirinya untuk kembali berkebun.

Tampak Wali Kota Sorong memotong pohon pisang dan mengambil buahnya di kebun, foto : Yanti




"Meskipun saya wali kota, mama Ketua DPRD, tapi kami masih menyempatkan diri untuk berkebun. Tapi yang lain sudah tidak mau berkebun, jangankah. Kita harus mempertahankan budaya kita, apalagi dengan adanya wabah corona ini. Petani di Jawa sudah susah untuk tanam padi dan menghasilkan beras dalam jumlah banyak, terus dikirim ke kita sini. Kalau sudah begitu, pasti akan terjadi krisis pangan," ujarnya.

Oleh karena itu, setiap daerah harus bisa mempertahankan makanan tradisional atau pangan lokal, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Dimana menurutnya, berkebun merupakan solusi utama agar tetap bisa bertahan hidup ditengah wabah COVID-19.

"Makanya kami ikut istilah sebelum hujan siapkan payung. Jadi sebelum corona masuk, kami sudah punya persediaan hasil kebun. Untuk masyarakat, mari kita kembali budayakan tradisi orangtua kita yaitu berkebun. Apalagi dengan situasi corona ini, mari kita berkebun. Dengan berkebun, kita bisa menikmati hasilnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," pungkas orang nomor satu di Kota Sorong.




Pantauan Balleo News, Wali Kota Sorong dua periode ini tampak bahagia bersama istri tercinta Petronela Kambuaya yang juga merupakan Ketua DPRD Kota Sorong, ketika berada di kebun mereka. Meskipun sehari-hari menjabat sebagai Wali Kota Sorong, namun Lambert Jitmau tampak sangat bersahaja yaitu dengan menggunakan celana pendek warna biru, baju kaos oblong warna coklat dan topi menutup kepalanya, didampingi istrinya dengan santainya mengambil dan menebang sendiri hasil kebunnya, seperti pisang dan aneka sayuran yang ditanam dikebun.
Balleo News