Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Vinsen Kocu : Gajah Dipelupuk Mata Tak Tampak, Semut Diseberang Lautan Tampak





Kabarsorsel.com - Peribahasa yang menggambarkan betapa mudahnya seseorang melihat kesalahan orang lain dibanding kesalahannya sendiri".

Metafora pada kata-kata itu mengingatkan pada ilmu gagasan Sigmund Freud adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi. Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar, prasadar, dan tak-sadar.  Hal yang sama dikemukan oleh pakar psikologi Deskripsi Carl Gustav Jung tentang teori ketidaksadaran kolektif atau Collective unconscious (German: kollektives Unbewusstes).  Jung ketidaksadaran kolektif memiliki pengaruh besar pada kehidupan individu, yang menghayati simbol-simbolnya dan memberi makna pada mereka melalui pengalaman-pengalaman tindakan ucapan, dan sisa sisa pengalaman manusia primitive atau manusia purba atau sifat sifat binatang [anima].

Dan mungkin kata kata [Kuman Di Seberang Lautan Tampak Gajah di Pelupuk Mata Tidak Tampak]  adalah bentuk ketidaksadaran umat menusia. Misalnya manusia lebih suka mencari kesalahan dan kelemahan orang lain, lupa jika dirinya atau umat manusia semua adalah berdosa, dan suka bertindak tidak disadari atau bahkan semua mulut manusia itu bau  dan diperut masih ada kotoran.

Kuman Di Seberang Lautan Tampak Gajah di Pelupuk Mata Tidak Tampak, mengikatkan apa yang terjadi dalam kisah Nabi Isa [kata Guru Agama dalam mata pelajaran agama ] pada teks injil  [Yoh 8:2-11] kisah narasi tentang wanita/ manusia berbuat salah kedapatan berbuat salah/zinah. Nabi Isa berkata : “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan berzinah berbohong berdosa itu.”. Kata kata ini mungkin absud tetapi nilai moral yang tinggi bahwa Nabi Isa untuk  mengingatkan pepatah tentang keprihatinan universal bahwa sebenarnya tidak usah mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggap diri sendiri lebih baik.

Maka wajar jika kemudian filsafat moral atau etika menyatakan, manusia tidak bisa menilai orang lain apakah sejatinya seorang manusia benar atau salah. Sebab yang paling tahu benar salah adalah dirinya sendiri [‘suara hati’] dan Tuhan. Orang lain tidak mungkin paham, maka musuh paling besar itu adalah memahami diri sendiri.

Kalaupun ide benar salah itu ada atau dengan mudah menyimpulkan sesuatu tentang menyangkut orang lain filsuf Friedrich Wilhelm Nietzsche, adalah wujud pembekuan atau ide fixed ini dimaksudkan supaya manusia tenang, sekaligus bentuk kekerasan atau kekejamaman pada umat manusia. Sebenarnya sikap manusia dalam metafora [Kuman Di Seberang Lautan Tampak;  Gajah di Pelupuk Mata Tidak Tampak] adalah representasi sebagai will to power (kehendak untuk berkuasa) dengan cara dan bentuk apapun. Atau kehendak ingin menguasai orang lain dengan menyebut sebagai dirinya lebih baik dari orang lain. Atau buanglah yang jelek  dan percayakan kepada saya lebih baik dari orang lain. Suatu sikap angkuh atau pongah menganggap dirinya lebih baik, lebih agung, lebih pantas dengan keyakinan dialah yang terbaik [lebih sedikit dosa, orang lain lebih berdosa];

Metafora [Kuman Di Seberang Lautan Tampak;  Gajah di Pelupuk Mata Tidak Tampak] adalah sikap yang harusnya dipahami lebih luas lebih dalam lagi [beyond evil and good], bahwa apa yang dikatakan oleh Martin Heidegger bahwa kebenaran itu keras kepala dan paling sulit ditemukan. Maka Heidegger menyatakan kebenaran itu adalah tersembunyi dan selalu ada dalam ketersembunyiannya ("Aletheia"). Maka secara ontology Metafora [Kuman Di Seberang Lautan Tampak;  Gajah di Pelupuk Mata Tidak Tampak] mengajak umat manusia untuk lebih mawas diri pada diri sendiri sebelum mengurusi urusan orang lain.

Filsafat  Jawa Kuna atau Indonesia Lama [Mataram] menyebutnya perilaku Metafora [Kuman Di Seberang Lautan Tampak;  Gajah di Pelupuk Mata Tidak Tampak] sama dengan manusia memasuki zaman edan. Orang tidak edan [waras] adalah manusia yang selalu [eling] atau ingat. Maka Dokrin Moral  Jawa  Kuna memiliki ketelitiannya dalam semua tindakan (tidak ceroboh, hati-hati), atau "Alon-alon waton kelakon" artinya: perlahan tetapi pasti atau tidak terburu-buru dalam bertindak (daya kematangan repleksi). Atau pada dokrin etika Jawa Kuna pada kata "eling lan waspodo", atau "Ojo dumeh". Sebuah kata etika mendalam untuk repleksi diri, bahwa hidup yang dihayati berbeda dengan hidup yang dipikirkan.

Filsafat Moral Jawa Kuna menyebutnya perilaku Metafora [Kuman Di Seberang Lautan Tampak;  Gajah di Pelupuk Mata Tidak Tampak] wujud hidup adalah penghayatan, dan pengalaman pada apapun, kemudian mengambi sikap senantiasa ada "eling (ingat)". Ingat mati, ingat orang tua, ingat doamu, ingat puasa, ingat agama, ingat usia, ingat tugas, ingat waktu, ingat sejarah, ingat memaksa kehendak, ingat susah, ingat senang, ingat sakit, ingat sehat, ingat ilmu, ingat istri,ingat anak,ingat orang tua dan seterusnya. Dengan modal ingat maka tidak mungkin manusia bersikap "dumeh" (sombong, atau angkuh, menyalahgunakan) atau sering mencari kesalahan orang lain.

Dengan metafora [Kuman Di Seberang Lautan Tampak;  Gajah di Pelupuk Mata Tidak Tampak] menghasilkan perilaku atau mengubah ketidaksadaran teori Sigmund Freud, dan Carl Gustav Jung wujud kesadaran  dan keseimbangan sikap mental pada filsafat Moral   Jawa Kuna pada "Wedi, Isin" artinya "Takut, {"Tahu Malu"}. Takut pada Tuhan, takut hukum karma, takut salah jalan, takut dalam artian seluas-luasnya untuk mawas diri. Jangan menjadi manusia membuat malu, dan memalukan. Maka ini penting supaya hidup bahagia atau disebut "keselarasan dalam hidup".

Metafora [Kuman Di Seberang Lautan Tampak;  Gajah di Pelupuk Mata Tidak Tampak] maka  akhirnya saya  harus meminjam filsafat Thuth and Method oleh  Hans Georg Gadamer pada konsep "Bildung" atau hidup manusia proses belajar sehingga menjadi terbentuk menjadi terpelajar/terdidik, mental bertanggungjawab, manusia tidak picik, angkuh, merasa benar sendiri,  mau belajar banyak mendengar manusia lain, saling menghormati, menerima perbedaan, sebagai hasil pengalaman kehidupan yang dihayati atau dibatinkan.

Metafora [Kuman Di Seberang Lautan Tampak;  Gajah di Pelupuk Mata Tidak Tampak]  lebih mantap lagi pengertiannya  jika saya meminjam pada Filsuf Yunani Kuna pada gagasan "Herakleitos dari Efesus menyatakan "segala sesuatu berubah, tidak ada yang tetap, satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri". Istilah ["panta rhei kai uden menei"]  berarti, "semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap. Begitu juga watak sifat dan sikap manusia, apapun penilaian bisa berubah, waktu berubah maka semuanya berubah, tidak ada yang abadi. Maka apapun penyimpulan tentang menghakimi orang lain jelek, dan diri sendiri lebih baik adalah keliru dan tidak tepat. Biarlah waktu yang akan membuktikannya, tidak usah repot-repot mencari tahu kesalahan orang lain. Semua [Ada dalam waktu atau saya(vinsen kocu)menyebut “Being and Time”. Kita tidak mungkin menyentuh air yang sama ketika mencuci handuk di kali Auk. Air disungai sembra atau kohoin terus mengalir dan berubah, dan keabadian ada dalam perubahan itu sendiri atau siklus kemenjadian. Memahami orang lain tidak pernah bisa menjadi atau membuat definisi final atau "ide fixed".

Demikian juga ketika kita memahami segala sesuatu. Alam ini bercampur baur [baik buruk, atau 4 anasir]  lalu datanglah logos atau fakultas akal budi maka terciptalah keteraturan, inilah ilmu yang ingin manusia definisikan. Sampai hari ini kebenaran finalitas itu tidak ada, dan manusia terus mencarinya dengan berbagai metode dan model. Manusia masih merupakan sebuah misteri yang tidak dapat didefenisikan.

Pewarta : JD