Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Uncen Jadi Budak Penguasa


Budak itu pelayan, atau jangos tanpa gaji yang tugasnya tunduk ditindas untuk menuruti, melayani atau menyajikan apa yang diinginkan majikan. 

Kehormatan Universitas Cenderawasih (Uncen) saat ini diperbudak oleh penguasa kolonial melalui kelompok akademis yang melacurkan diri untuk melayani kepentingan penguasa penjajah. 

Ketika Uncen menjadi pesanan kepentingan penguasa dalam melanjutkan kebijakan Otonomi Khusus di West Papua, maka sesungguhnya Uncen melucuti kehormatan iptek itu sendiri.

Uncen sedang dipakai menjadi alat untuk melanggengkan penindasan di West Papua. Sama seperti berbagai ilmuwan barat abad ke-19 yang dirasuki pikiran kolonial dan menjadi alat penguasa kolonial barat di berbagai wilayah koloni. 

Akademisi Uncen tersusupi hegemoni penguasa kolonial; sehingga kemampuannya mengkaji dan melanggengkan kebijakan kolonial, bukan sebaliknya mengkaji dan memberi solusi objektif dan tuntas atas akar-akar penindasan kolonialisme Indonesia di West Papua. 

Buktinya, Uncen tidak akan mengkaji dengan landasan teoritik yang tepat berdasarkan variabel faktual, tetapi normatif dan bersifat dinamis sesuai kepentingan pesanan penguasa kolonial. 

Uncen sedang membentuk dan mempertahankan citra sains kolonial di wilayah koloni West Papua. 

Sehingga kajian-kajian ilmiah ikut membunuh pengetahuan ilmiah yang dibangun oleh orang Papua dengan semangat perjuangannya sendiri. 

Uncen gagal mewakili dan berpihak pada kenyataan penderitaan dan perjuangan bangsa Papua. 

Sehingga disini juga berlaku rasisme sains; memandang bahwa segala kajian, seminar, buku, seruan, aksi-aksi dalam mencari solusi objektif oleh orang Papua tidak penting dan disepelekan.  
Uncen telah dan sedang ciptakan mesin politik kolonialisme Indonesia sejak melahirkan rumusan Undang-Undang Otsus tahun 2001 hingga sekarang bikin kajian evaluasi dan draf revisi UU Otsus. 

Analoginya sama seperti tahun 1941 AS pakai 3000 ilmuwan fisika pimpinan Robert Oppenheimer ciptakan energi Atom sebagai senjata bom atom yang digunakan AS hantam hancurkan Hiroshima dan Nagasaki. 

Robert Oppenheimer menyesali temuannya dan kampanyekan bom atom untuk perdamaian, tetapi apakah akademisi Uncen akan menyesali ratusan ribu korban kejahatan kolonialisme Indonesia di West Papua sejak Otsus digulirkan?

 Apakah Otsus telah dan akan hentikan konflik bersenjata dengan korban nyawa yang terus terjadi di West Papua? 

Apakah Uncen bisa tanggung 45.000 pengungsi di Nduga akibat tidak adanya solusi politik atas konflik Papua? 

Uncen tidak akan paham kenapa 62 Perdasus Otsus di Aceh tetapi Papua hanya diijinkan 2 Perdasus. Uncen pikir soal Papua bisa selesai dalam rumusan pasal-pasal Otsus. Orang Papua telah memahami sejarah ketertindasannya. 

Mereka sudah paham siapa dan apa itu Indonesia di West Papua. Atas dasar itu, orang Papua sudah mampu memprediksi nasib masa depannya bila semua agenda politik kolonialisme Indonesia terus dilanjutkan tanpa ada penyelesaian tuntas. 

Maka, sangat keliru bila ada rumusan kajian yang menghendaki penyelesaian konflik politik West Papua melalui UU Otsus; sebagaimana pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), Pembentukan Partai Lokal, ataupun rumusan lain yang hendak mereduksi duduk persoalan West Papua. 

Persoalan West Papua harus ditempatkan di ranah yang benar, bukan pada mengkaji dan merumuskan kebijakan undang-undang Otsus, tetapi pada kajian tentang hak penentuan nasib sendiri yang belum diwujudkan Indonesia di West Papua. 

Otonomi khusus tidak memberi solusi pilihan bagi rakyat West Papua untuk menentukan nasibnya, sehingga pemerintah Indonesia - juga akademisi- mesti membahas agenda referendum sebagai ruang damai dan demokratis bagi rakyat West Papua untuk menentukan nasib politiknya. 

Berbagai akademisi, ahli hukum internasional, sejarawan, dari berbagai kajian dan buku telah membahas tentang duduk persoalan West Papua dan penyelesaiannya. Sehingga, Uncen sebagai lembaga ilmu pengetahuan jangan lagi melacurkan kehormatan ilmiah dalam kepentingan politik kolonial. 

Sebab, Ilmuwan harus objektif pada kebenaran dan memberi jalan keluar yang objektif. Tidak membela kepentingan politik, tidak juga berdiri di posisi netral, tetapi pada kebenaran ilmiah. Victor Yeimo

Posting Komentar

0 Komentar